Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Karakter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Karakter. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Januari 2011

PEMAHAMAN KARAKTER MORAL SISWA DALAM KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR DI SEKOLAH(2 )


TAHAP PERKEMBANGAN MORAL DALAM KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR

Kematangan moral menuntut penalaran yang matang, dimana suatu keputusan bahwa sesuatu itu baik barangkali dianggap tepat, tetapi keputusan itu baru disebut matang bila dibentuk oleh suatu proses penalaran yang matang. Oleh sebab itu tujuan dari pemahaman guru dan kepala sekolah  tak terlepas dari kematangan moral, dan merupakan suatu keharusan yang harus dikembangkan, maka peran guru dan kepala sekolah banyak dituntut untuk memahami dan mengetahui proses perkembangan dan cara-cara membantu perkembangan moral tersebut.
  Tahap-tahap perkembangan moral, berdasar hasil penelitian Kohlberg (1980b) dapat diungkap sebagai berikut:
1.       Ada prinsip-prinsip moral dasar yang mengatasi nilai-nilai moral lainnya, dan prinsip-prinsip moral dasar itu merupakan akar dari nilai-nilai moral lainnya.
2.      Manusia tetap merupakan subyek yang bebas dengan nilai-nilai yang berasal dari dirinya sendiri;
3.      Dalam penalaran moral ada tahap-tahap perkembangan bagi setiap kebudayaan manusia;
4.      Tahap-tahap perkembangan penalaran moral banyak ditentukan oleh faktor kognitif atau kematangan intelektual.
Tahapan perkembangan penalaran moral  tersebut sebenarnya tak terlepas dari pemikiran John Dewey yang memandang perkembangan tersebut ke dalam tiga tingkatan, yaitu:
1.       Tingkat Pra-Konvensional. Pada tingkat ini seseorang sangat tanggap terhadap aturan-aturan, penilaian baik buruk, tetapi dia menafsirkan baik dan buruk ini dalam rangka maksimalisasi kenikmatan atau akibat-akibat fisik dari tindakannya (hukuman fisik, penghargaan, tukar menukar kebaikan). Kecenderungan utamanya dalam interaksi dengan orang lain adalah menghindari hukuman atau mencapai maksimalisasi kenikmatan.
2.      Tingkat  Konvensional. Pada tingkat ini seseorang menyadari dirinya sebagai seorang individu di tengah-tengah keluarga, masyarakat dan bangsanya. Keluarga, masyarakat dan bangsa dinilai memiliki kebenarannya sendiri, karena jika menyimpang dari kelompok ini akan terisolasi. Maka dari itu, kecenderungan orang pada tahap ini adalah menyesuaikan diri dengan aturan-aturan masyarakat dan mengidentifikasikan dirinya terhadap kelompok sosialnya. Pada tingkat ini perasaan dominan adalah malu.
3.      Tingkat Pasca-Konvensional. Pada tingkat ini orang bertindak sebagai subyek hukum dengan mengatasi hukum yang ada. Orang pada tahap ini sadar bahwa hukum merupakan kontrak sosial demi ketertiban dan kesejahteraan umum, maka jika hukum tidak sesuai dengan martabat manusia, hukum dapat dirumuskan kembali. Perasaan yang muncul pada tahap ini adalah rasa bersalah dan yang menjadi ukuran keputusan moral adalah hati nurani.
Dari tahapan dan tingkatan tersebut di atas motif yang diberikan bagi kepatuhan terhadap peraturan  merupakan bentuk-bentuk karakter yang harus ditanamkan pada siswa dalam setiap kegiatan belajar mengajar terkait dengan bidang studi yang harus diterima oleh mereka. Jenis karakter yang dimaksud:
      1.Bentuk karakter yang membuat seseorang menjadi berintegritas, jujur dan loyal;
      2.Bentuk karakter yang membuat seseorang memiliki pemikiran terbuka serta tidak suka   memanfaatkan orang lain;
      3.Bentuk karakter yang membuat seseorang memiliki sikap peduli dan perhatian terhadap orang lain maupun kondisi sosial lingkungan sekitar.
      4.Bentuk karakter yang membuat seseorang selalu menghargai dan menghormati orang lain;
      5.Bentuk karakter yang membuat seseorang sadar hukum dan peraturan serta peduli terhadap lingkungan alam;
      6.Bentuk karakter yang membuat seseorang bertanggung jawab, disiplin, dan selalu melakukan sesuatu dengan sebaik mungkin.
         Menurut Ratna Megawangi (2008) menyebut sembilan pilar karakter nilai-nilai luhur universal yang perlu ditanamkan kepada anak sejak dini usia prasekolah, terutama: Pertama, karakter cinta Tuhan Allah dengan segala ciptaanNya; Kedua, kemandirian dan tanggung jawab; Ketiga, kejujuran/amanah, diplomatis; Keempat, hormat dan santun; Kelima, dermawan, suka menolong, gotong royong, kerjasama; Keenam, percaya diri dan pekerja keras; Ketujuh, kepemimpinan dan keadilan; Kedelapan, baik dan rendah hati; Kesembilan, karakter toleransi, kedamaian dan kesatuan.,
       Secara definitif karakter adalah kualitas psikologis yang dimiliki oleh seseorang atau secara kolektif oleh sekelompok masyarakat. Istilah ini sering digunakan secara bergantian dengan nilai-nilai, yaitu dapat dipercaya/amanah, hormat dan tanggung jawab, kejujuran dan kasih sayang.  
Sedang pendidikan karakter mencakup sistem tata nilai yang meliputi semua komponen pelaku pendidikan, termasuk guru dan masyarakat, dan tata nilai yang berkembang pada suatu masyarakat. Juga melibatkan kebijakan dan aturan pemerintah sebagai pengatur pendidikan . Hubungan antar komponen dalam sistem pendidikan nasional yang terlibat dalam pendidikan karakter. Komponen input dan proses dipengaruhi oleh faktor eksternal yang berupa kondisi dan faktor internal berupa kondisi sosial masyarakat. Dengan demikian komponen output berupa kompetensi lulusan sesungguhnya juga btidak lebih dari kondisi dan kapasitas yang tersedia dalam komponen input terutama proses.

D.  PENUTUP

      Sebagai penutup dari paparan di atas maka dapat disimpulkan Pemahaman karakter Moral Siswa dalam Kegiastan Belajar Mengajar sebagai berikut (1) Guru dan para pendidik perlu memusatkan perhatiannya pada upaya memperbaiki kualitas pembelajaran. Upaya memperbaiki kualitas pembelajaran moral ditempatkan pada perbaikan strategi pembelajaran, variabel metode pembelajaran.mencakup strategi pengorganisasian pembelajaran, strategi penyampaian pembelajaran, dan strategi pengelolaan pembelajaran; (2) Variabel yang berpengaruh terhadap penggunaan metode pembelajaran adalah variabel kondisi pembelajaran, dan variabel ini dikelompokkan menjadi tujuan dan karakteristik bidang studi, kendaladan karakteristik bidang studi, dan karakteristik siswa; (3)  Karakteristik siswa adalah aspek-aspek atau kualitas perseorangan siswa, diantaranya adalah kemampuan awal atau hasil belajar yang telah dimilikinya; (4).Kemampuan awal sebagai pijakan dalam mengembangkan stratregi pembelajaran moral berkaitan dengan tahap mana penalaran moral siswa berada, pada tahap mana kepercayaan eksistensial siswa berada, bagaimana empati, dan peran sosial mereka.(5) Bentuk-bentuk budaya siswa berupa prestasi psikologis,di antaranya adalah penalaran moral, kepercayaan eksistensial, empati dan peran sosial.
:
E. REFERENSI

Asri Budiningsih. (2004). Pembelajaran Moral. Penerbit. PT.Rineka Cipta. Jakarta
Asri Budiningsih C.(2001) Penalaran  Moral Remaja dan Beberapa Faktor Budaya yang berhubungan Dengannya (Disertasi tidak dipublikasikan). Malang: PPs.UM.
Cremers,A.(1995). Teori Perkembangan Kepercayaan, Karya-Karya Penting James W.Fowler.Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Cremers,A.(1995). Tahap-Tahap Perkembangan Moral.Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Departemen Pendidikan Nasional. (2010). Draft Rencana Strategis Pembangunan Pendidikan Nasional 2010-2014. Jakarta: Depdiknas.
Kohlberg,L.(1980). Stages of Moral Development as a Basis of Moral Education. Dalam Mursey,B (ed). Moral Development, Moral Education, and Kohlberg. Birmingham, Alabama: Religious Education Press.
Linda & Eyre,R (1993). Teaching Your Children Values. Eyre,R.M. & Assoc.Inc.
Manulang, Marihot. (2010). Mendiknas dan Problematika Pendidikan Kita. Tersedia online: http://hariansib.com/?p=96786 12 April 2010.
Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Kamis, 23 Desember 2010

PEMAHAMAN KARAKTER MORAL SISWA DALAM KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR DI SEKOLAH(bag 1)

( Oleh.Prof.Dr.H.M.Djunaidi Ghony )


A. Pendahuluan
Pendidikan persekolahan sampai saat ini masih menjadi bulan-bulanan banyak pihak karena hasil dan dampaknya yang belum sesuai dengan harapan. Banyak fenomena kejahatan, bencana, pengangguran, kemiskinan, dan kerusuhan dikaitkan dengan ketidakberhasilan pendidikan. Demikian halnya dengan rendahnya mutu pendidikan, dilihat dari daya saing SDM Indonesia saat ini dibandingkan dengan Negara-negara tetangga,.
Hal ini dapat dilihat dari hasil studi yang diselenggarakan oleh IEA (International Organization for Evaluation of Educational Achievement) yang juga diikuti oleh Indonesia bersama beberapa negara lainnya dalam TIMSS (Trends in International Mathematic and Science Study). Study PISA (Programme for International Student Assesment) yang diselenggarakan oleh OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) pada tahun 2006 menunjukkan Indonesia menduduki urutan kelima dari bawah dari 54 negara. Berdasarkan parameter EDI (Education Development Index) Indonesia menduduki peringkat 71 (medium EDI). Data tersebut menunjukkan bahwa dilihat dari segi mutu, Indonesia masih tergolong negara dengan mutu pendidikan yang belum dapat dibanggakan. (Depdiknas, 2009:49).
Masalah mutu ini bukanlah masalah yang berdiri sendiri, tetapi terkait dengan masalah siswa, masalah guru, masalah fasilitas, masalah manajemen sekolah, masalah sistem pendidikan, dan sebagainya. Marihot Manulang (2009) mengungkapkan tiga masalah pokok pendidikan Indonesia saat ini, yaitu (1) birokratisasi pendidikan yang kaku dan formalistik, (2) budaya sekolah (universitas) yang telah membeku dan (3) kehadiran pendidik yang sudah kehilangan harapan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa mutu pendidikan saat ini perlu perbaikan yang mendesak untuk menghasilkan SDM Indonesia yang unggul dan berdaya saing global. Urgensi perbaikan mutu pendidikan ini juga menjadi prioritas pembangunan pendidikan tahun 2010-2015 sebagaimana tahapan pembangunan pendidikan yang dibuat oleh Kementerian Pendidikan Nasional yang tertuang dalam buku “Arah Pengembangan Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah” (2006:6) strategi pengembangan pendidikan dasar dan menengah dibagi atas 4 periode:
* 2005 – 2010 : Peningkatan kapasitas dan modernisasi: pemerataan akses, peningkatan IPM, dan penggunaan ICT
* 2010 – 2015 : Penguatan pelayanan untuk meningkatkan mutu dan daya saing dalam pelayanan pendidikan yang semakin besar, desentralisasi fiskal dan otonomi daerah yang semakin dewasa.
* 2015 – 2020 : Daya saing regional: pengembangan mutu dan pelayanan pendidikan dasar dan menengah yang memiliki daya saing pada tingkat ASEAN.
* 2020 – 2025 : Daya saing internasional: pengembangan mutu dan pelayanan pendidikan dasar dan menengah berkelas internasional.
Pemecahan masalah mutu pendidikan harus dilakukan dengan berfokus pada business core (bidang pokok) pendidikan, yaitu pembelajaran atau kegiatan belajar mengajar (KBM). Pendidikan pada dasarnya upaya menjadikan peserta didik menjadi manusia terdidik. Format manusia terdidik dalam perspektif UUSPN No. 20/2003 dinyatakan :......…manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Berdasarkan pola pemikiran seperti ini, maka setiap hal yang dilakukan dalam mengelola pendidikan nasional atau di daerah selalu ditujukan untuk mewujudkan layanan pembelajaran terbaik yang mengarah pada perubahan perilaku peserta didik menjadi manusia utuh sebagaimana ditegaskan dalam UUSPN di atas.
Perwujudan mutu pembelajaran merupakan ujung tombak keberhasilan pendidikan yang dalam setting kelas utamanya diperani oleh guru sebagai pendidik professional sedangkan dalam setting sekolah utamanya diperani oleh kepala sekolah sebagai pemimpin, manajer, dan supervisor sekolah.
Bertolak dari paparan di atas, dapat dijelaskan dua hal, yaitu: (1) arah pendidikan persekolahan adalah mewujudkan perubahan perilaku peserta didik menjadi lebih baik mengarah pada perwujudan manusia utuh sebagaimana dinyatakan dalam tujuan pendidikan nasional, dan (2) peran utama untuk meningkatkan mutu pendidikan persekolahan pada setting kelas utamanya diperani oleh guru sedangkan pada setting sekolah utamanya diperani oleh kepala sekolah. Perwujudan dua hal di atas perlu dipecahkan melalui berbagai pandangan karakter siswa di sekolah terkait dengan kegiatan belajar mengajar dalam berbagai bidang studi, sekaligus sebagai pokok bahasan dalam Diklat Nasional kali ini.

B. Memahami Karakteristik Siswa dalam Kegiatan Belajar Mengajar.

Banyak pakar pendidikan yang berpendapat secara berbeda beda mengenai karakter. Karakter berbeda dengan nilai. Nilai dianggap sebagai dasar terbentuknya karakter. Karakteristik adalah aspek-aspek atau kualitas perseorangan siswa yang telah dimilikinya. Karakteristik siswa adalah salah satu variabel dalam domain desain pembelajaran yang biasanya didefinisikan sebagai latar belakang pengalaman yang dimiliki oleh siswa termasuk aspek-aspek lain yang ada pada diri mereka seperti kemampuan umum, ekspektasi terhadap pengajaran, dan ciri-ciri jasmani serta emosional, yang memberikan dampak terhadap keefektifan belajar. Menganalisis karakteristik siswa dimaksudkan untuk mengetahui ciri-ciri perseorangan. Hasil dari kegiatan ini akan berupa daftar yang memuat pengelompokan karakteristik siswa, sekaligus sebagai pijakan untuk mempersiapkan metode pembelajaran yang optimal guna mencapai hasil belajar tertentu.
Karakteristik siswa sebagai salah satu variabel dalam domain desain pembelajaran akan memberikan dampak terhadap keefektifan belajar. Selama ini teori dan prinsip-prinsip pembelajaran yang dikembangkan oleh guru lebih berpijak pada karakteristik siswa dimana teori itu dikembangkan yakni karakteristik siswa di negaranya OBAMA. Adopsi teori dan prinsip-prinsip pembelajaran yang dilakukan para pakar seringkali mengalami kegagalan. Ini disebabkan kemungkinan besar dasar pijakannya yang berbeda atau variabel kondisional yang berbeda dengan kondisi di mana pembelajaran dilakukan. Variabel yang berhubungan dengan karakteristik siswa penting dijadikan pijakan pengembangan program pembelajaran moral dalam berbagai bidang studi.
Teori dan prinsip-prinsip pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran moral di berbagai bidang studi seharusnya dikembangkan dengan berpijak pada informasi tentang karakteristik siswa. Pada tahap penalaran moral mana siswa itu berada, bagaimana eksistensi kepercayaan/iman mereka, empat, dan peran sosial mereka. Ini semua amat diperlukan oleh para guru, pendidik, perancang pembelajaran dalam upaya pengembangan program pembelajaran moral dalam berbagai bidang studi, dan produksi sumber-sumber belajar moral seperti buku-buku teks/paket, video,TV, komputer.
Informasi mengenai perkembangan moralitas mana mereka berada, akan bermanfaat untuk keperluan mengembangkan dan memproduksi bahan-bahan pembelajaran, khususnya yang berkaitan dengan bagaimana cara guru mengorganisasi isi/pesan-pesan pembelajaran. Jika siswa cenderung masih berada pada tahap penalaran tahap ke dua ( menyesuaikan diri untuk mendapatkan ganjaran, kebaikannya dibalas dan seterusnya) maka isi pembelajaran lebih banyak distruktur/diorganisasi untuk dapat merangsang aspek kognitif siswa agar berkembang menuju tahap kesadaran moral ketiga (menyesuaikan diri untuk menghindarkan ketidak setujuan, ketidak senangan orang lain).
Pengorganisasian isi pembelajaran lebih banyak menyediakan argumen sesuai dengan tahap penalaran ketiga tersebut. Demikian juga siswa cenderung masih berada pada tahap perkembangan moral ketiga, maka penstrukturan isi/pesan-pesan pembelajaran lebih banyak menyediakan argumen yang sesuai untuk penalaran moral tahap keempat ( menyesuaikan diri untuk menghindarkan penilaian oleh otoritas dan rasa diri bersalah ).
Informasi mengenai pada tahap kepercayaan eksistensial/iman, mana kecenderungan siswa berada, bagaimana kecenderungan empatinya, rasa hormat timbal balik haruslah menjadi fokus dari program pembelajaran khususnya dikalangan siswa dan kaum remaja, justru kemampuan untuk memahami dari sudut pandangan orang lain inilah yang akan membuat mereka dapat berpartisipasi secara lebih penuh dalam keluarga, sekolah, dan lingkungan kelompok teman-teman sebaya.. Bagaimana pula kecenderungan peran sosial mereka, akan memberikan petunjuk mengenai cara mengorganisasi isi pesan-pesan pembelajaran beserta pengelolaannya, sebab aspek-aspek tersebut berhubungan secara paralel dengan perkembangan moral siswa. Dengan demikian pengelolaan pembelajaran yang disajikan guru dapat dilakukan dalam bentuk pemberian tugas yang dapat merangsang perkembangan aspek-aspek tersebut.